Menjadi Petani

22 08 2013

Tak ada yang ingin jadi petani, itulah kesimpulan saat kita tanyakan pada sekelompok anak SD, SMP atau SMU, profesi petani adalah profesi yang dijauhi bahkan dalam alam pikiran anak anak, sebab petani identik dengan buramnya nasib kehidupan, sayang sekali, padahal petani adalah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa, menghidupi semua warganegara dengan apa yang ditanamnya!





Sejarah Karawang

26 01 2013

SEJARAH SINGKAT LAHIRNYA KABUPATEN KARAWANG

Bila kita melihat jauh ke belakang, ke masa Tarumanegara hingga lahirnya Kabupaten Karawang di Jawa Barat, Berturut-turut berlangsung suatu pemerintahan yang teratur, baik dalam system pemerintahan pusat (Ibu Kota). Pemegang kekuasaan yang berbeda, seperti Kerajaan Taruma Negara (375-618) Kerajaan Sunda (Awal Abad VIII-XVI). Termasuk pemerintahan Galuh, yang memisahkan diri dari kerajaan Taruma Negara, ataupun Kerajaan Sunda pada tahun 671 M. Kerajaan Sumedanglarang (1580-1608, Kasultanan Cirebon (1482 M) dan Kasultanan Banten ( Abad XV-XIX M).

Sekitar Abad XV M, agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh Ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusuf Idofi, dari Champa, yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro, sebab disamping ilmunya yang sangat tinggi, beliau merupakan seorang Hafidh Al-Quran yang bersuara merdu. Kemudian ajaran agama islam tersebut dilanjutkan penyebarannya oleh para Wali yang disebut Wali Sanga. Setelah Syeikh Quro Wafat, tidak diceritakan dimakamkan dimana. Hanya saja, yang ada dikampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Wadas, Kabupaten Karawang, merupakan maqom (dimana Syech Quro pernah Tinggal).

Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa. Hal ini menjadikan apabila Karawang berasal dari bahasa Sunda. Ke-rawa-an artinya tempat berawa-rawa. Nama tersebut sesuai dengan keadaan geografis Karawang yang berawa-rawa, bukti lain yang dapat memperkuat pendapat tersebut. Baca entri selengkapnya »





Kerajaan Mataram Islam , Pembangun Lumbung Pangan Krawang Jawa Barat

26 01 2013

Pendiri kerajaan Mataram Islam adalah Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, putra Ki Gede Pamanahan. Sebelum menjadi raja Mataram, ia mengabdi kepada Sultan Adiwijoyo sebagai komandan pasukan pengawal raja dan bersahabat karib dengan putra mahkota Pajang yang bernama Pangeran Banowo. Setelah Ki Gede Pamanahan wafat (1575), ia menggantikannya sebagai bupati dan bercita-cita menjadi penguasa di tanah Jawa.

Bupati-bupati Islam di daerah pantai yang diperangi Mataram adalah Surabaya, yang menyingkir ke Banten. Sementara itu, daerah Cirebon dan Galuh di Jawa Barat juga menjadi daerah kekuasaannya. Setelah Sutowijoyo meninggal dan digantikan Mas Jolang (1601-1613), Mataram masih terus menaklukkan daerah pantai, bahkan ada daerah pantai yang melepaskan diri kembali, dan harus direbut kembali. Dalam usaha menyatukan kerajaan, Mas Jolang gugur di daerah Krapyak sehingga ia disebut Panembahan Seda Krapyak.

sultan agung raja kerajaan mataramsultan agung
Raja terbesar kerajaan Mataram adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645 M) dan ibu kota kerajaan Mataram saat itu adalah Karto. Masa pemerintahannya dibedakan atas dua periode, yaitu:

a. Masa penyatuan negara (1613-1629 M), merupakan masa peperangan ntuk mewujudkan cita-cita menyatukan Pulau Jawa. Sultan Agung memimpin pasukan menyerang Surabaya dan daerah-daerah pesisir pantai yang menjadi sekutunya.

b. Masa pembangunan negara (1630-1645 M). Beberapa upaya Sultan Agung untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya adalah sebagai berikut:

1) Memelihara Mataram sebagai negara agraris dengan hasil utamanya beras dan diekspor ke Malaka. Sultan Agung juga memindahkan petani ke Karawang yang subur.

2) Menyusun suatu masyarakat yang bersifat feodal. Pejabat memperoleh imbalan berupa tanah garapan atau pajak tanah.

Di bidang perekonomian, Mataram termasuk wilayah yang subur. Pertanian merupakan mata pencaharian utama, dengan hasil utamanya beras. Dalam masyarakat yang agraris inilah berkembang feodalisme, yaitu tata sosial ekonomi atas penguasaan tanah.

Sistem feodalisme pada masyarakat Mataram membagi masyarakat ke dalam beberapa golongan. Adapun istilah yang digunakan adalah wong gede, artinya orang besar (kaum bangsawan), kaum priyayi yaitu golongan menengah, dan wong cilik juga terdiri atas petani dan pedagang. Pelapisan masyarakat tersebut juga diikuti dengan penggunaan bahasa yang berbeda untuk tiap tingkatan.





Perahu keselamatan

30 05 2012

Perahu keselamatan

Didalamnya kita berjuang





Apakah perahu kita lebih baik dari Perahu VOC, by hasnan habib

18 05 2012

Perahu VOC, by hasnan habib

Berangkat dengan niat Gold, Glory dan Gospel, VOC menjadi perusahaan terkaya di dunia pada jamannya. Perahu kita harus kita berangkatkan dengan niat Save the earth , be forestry

for Islam, Rahmatan lil alamin





Pulau Moyo di Bima Sumbawa

18 05 2012

Pulau Moyo di Bima Sumbawa

Selama 30 tahun lebih batin ini berkecamuk penasaran akan Bima Sumbawa, sebuah cerita lama yang selalu muncul saat menyebut nama Bima, Ada nama Lilik Suarnata Anggabuwana dan ada Daeng Indrajit Aris Notoar (barangkali saat ini kalian membaca ini!) ditambah dengan keponakan-keponakanku Ganda dan adiknya, kalau takdir aku harus ke Bima, maka itu berarti hanyalah satu perjalanan ke masa silam.





Kota Bontang di waktu malam.by hasnan habib

18 05 2012

Kota Bontang di waktu malam.by hasnan habib

Ada kedamaian yang aneh saat menatap kota Bontang di waktu malam, ada nyeri menusuk diantara indahnya pemandangan, Bontang , sesakit apapun aku pasti datang lagi untuk membangun dirimu dan diriku.








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.